15 pantangan saat mendaki gunung yang sebaiknya ditaati

Pantangan atau larangan saat mendaki gunung ~ Mendaki gunung bagi sebagian orang merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Kegiatan ini semakin banyak digemari oleh kalangan remaja dan kaum muda, serta menjadikannya sebagai hobi ataupun sebagai kegiatan untuk mengisi liburan . Kegiatan ini semakin banyak dilakukan, salah satunya berkat adanya media social, dimana kita dapat mengetahui tempat-tempat yang indah terutama di kawasan gunung yang mungkin dalam beberapa tahun yang lalu hanya sebagian orang mengetahuinya. 



Ketika mengunjungi suatu tempat, tentu saja ada hal-hal yang tidak boleh kita lakukan atau dalam kata lain, larangan yang harus ditaati. Tidak terkecuali ketika kita mendaki gunung. Ketika kita mendaki gunung tentu saja ada hal yang sebaiknya tidak kita lakukan. Hal tersebut selain untuk kepentingan diri kita sendiri, kepentingan orang lain juga untuk kepentingan kelestarian lingkungan kita. Nah oleh karenanya perlu kita ketahui bersama, tentang larangan-larangan saat mendaki gunung. Ruang pendaki merangkumnya untuk anda, mari kita baca bersama.

Terlalu memaksakan ego dan mementingkan diri sendiri

Perdasarkan pengalaman saya selama ini, dalam suatu kelompok dengan berbagai macam karakteristik anggota. Akan dijumpai anggota yang bersifat egois dan terlalu berambisi, misalnya ketika melakukan pendakian harus mencapai puncak. Nah perlu kita sadari bahwasanya keselamatan suatu kelompok lebih penting dibandingkan dengan ambisi oleh seseorang untuk mencapai puncak. Adakalanya kita harus mengatahui batas kemampuan kita masing-masing serta kondisi yang dihadapi. Bila cuaca tidak memungkinkan seperti kondisi badai, ada baiknya kita tidak melanjutkan pendakian. Menunggu badai selesai kemudian barulah memutuskan untuk tetap melakukan perjalanan ke puncak atau harus segera turun gunung.

Membunuh dan menangkap hewan

Ketika kita di gunung, selain kita akan menemukan pemandangan yang elok, tidak menutup kemungkinan kita akan menemukan beberapa hewan liar. Jika kita menemukan hewan-hewan tersebut, sudah selayaknya kita membiarkannya hidup dan tidak melukai serta menangkapnya untuk dibawa pulang serta dijadikan hewan peliharaan. Perlu kita ketahui  bersama daerah pegunungan saat ini merupakan daerah hutan lindung dan sudah ada aturan tertulis atau undang-undang yang mengatur perburuan liar. Jika sobat terbukti membawa hewan yang ada dikawasan tersebut maka akan dapat dijerat dengan hukum yang berlaku.

Jangan beristirahat tidur dengan kondisi pakaian yang basah

Mengapa hal ini tidak boleh dilakukan? Tidur dengan pakaian yang basah dapat menyebabkan tubuh kita mengalami hipotermia. Mengenakan pakaian yang basah adalah salah satu dari beberapa penyebab hipotermia. Penyebab lainnya bisa karena terpajan udara dingin. Hipotermia adalah suatu kondisi yang harus segera memerlukan penanganan medis, oleh karenanya sebaiknya kita menghindari faktor resiko dengan tetap mengenakan pakaian kering ketika berada di gunung.

Jangan sampai terpisah dari rombongan


Bagi sahabat yang melakukan pendakian bersama dengan rekan-rekan yang lain. Perlu diperhatikan agar tetap menjaga kekompakan serta keutuhan rombongan. Beberapa waktu yang lalu ada kabar duka dari gunung Sindoro, dimana ada pendaki yang hilang dikarenakan dia terpisah dari rombongan. Setelah beberapa hari pencarian, pendaki tersebut ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Kita semua tidak menginginkan hal itu terjadi pada kita, rekan kita ataupun anggota pendakian yang lain. Kekompakan suatu kelompok harus tetap dijaga. Kekompakan suatu tim atau kelompok akan lebih sulit apabila tim tersebut beranggotakan banyak orang. Sebagai contoh ketika Pendakian Masal (PENMAS). Bila dirasa terlalu banyak orang anda dapat membaginya menjadi beberapa kelompok kecil. Bila ada salah satu anggota dengan kondisi fisik lebih lemah serta kecepatan berjalannya lebih lamban dibandingkan yang lain, sebaiknya anggota tersebut berada di posisi tengah agar tidak ketinggalan selama perjalanan.


Jangan merusak tanda-tanda pada jalur pendakian


Merusak tanda di jalur pendakian adalah sikap yang tidak tepat dan terkesan kekanak-kanakan. Tanda-tanda tersebut dibuat baik itu oleh petugas perhutani ataupun relawan dengan tujuan untuk keselamatan para pendaki agar tidak tersesat dengan mengambil jalur yang benar. Oleh karenanya tanda tersebut haruslah kita jaga bersama dan bilamana kita melihat ada orang yang merusak tanda tersebut sebaiknya kita ingatkan dan beri kesadaran tentang tindakan yang merugikan itu.

Jangan melakukan pendakian tanpa melaporkan ke pihak penjaga  

Tindakan yang tidak tepat lainnya adalah melakukan pendakian tanpa melakukan registrasi ke pihak penjaga. Dengan melakukan registrasi tentu akan memudahkan pihak penjaga gunung dalam memantau jumlah pendaki yang masuk. Serta memudahkan tim SAR mencari pendaki bilamana terdapat kejadian yang tidak diharapkan misalkan ada pendaki yang hilang dan harus dilakukan pencarian.

Jangan memotong jalur dan membuat jalur baru  

Jika anda melakukan pendakian, sebaiknya anda tetap berjalan pada jalur yang tersedia, terkecuali dalam kondisi mendesak dimana anda diharuskan memotong jalur yang ada misalkan: jalur yang tersedia menjadi rusak, licin dan beresiko membuat anda cidera bila melewatinya, anda diperbolehkan memotong jalur yang ada.

Jangan melakukan tindakan vandalisme

sumber : belantara [dot] in 

Pernah mendengar berita aksi vandalisme yang dilakukan oleh warga Negara Indonesia di Gunung Fuji Jepang? Hal yang mungkin bagi seseorang terlihat sepele, namun bila aksi tersebut bertuliskan graffiti suatu organisasi, atau suatu daerah serta Negara, tentu hal tersebut akan membuat nama baik daerah yang dimaksud menjadi tercoreng. Saya yakin pembaca disini adalah pribadi yang dewasa, dan tidak akan melakukan tindakan-tindakan tersebut.


Jangan membuang sampah sembarangan

Leave nothing but footprints, take nothing but picture, and kill nothing but time. Bagi kamu yang ikut dalam organisasi pecinta alam atau setidaknya pernah tergabung dalam organisasi pecinta alam, tentu kamu sudah tidak asing dengan kata-kata tersebut. Tidak meninggalkan apapun kecuali jejak, itulah yang sebaiknya yang kita lakukan ketika mendaki gunung. Bagaimana dengan sampah yang kita hasilkan selama kita melakukan pendakian.  Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk tetap membawa turun sampah yang kita hasilkan selama perjalanan pendakian. Gunung bukanlah tempat sampah dan perlu kita ketahui, bahwa sampah, terutama sampah plastik akan memerlukan waktu ratusan tahun untuk bisa terurai dengan sempurna. Oleh karenanya sebaiknya kita membawa kantong sampah atau trash bag untuk menampung sampah kita selama pendakian, serta membuangnya di tempat sampah yang biasanya sudah disediakan dibasecamp.  

Jangan mendirikan tenda di dekat sungai, danau ataupun air terjun.

Bila anda hendak mendirikan tenda, sebaiknya menghindari mendirikan di tempat-tempat yang telah disebutkan. Selain ancaman dari bahaya banjir yang bisa datang secara tiba-tiba, juga menghindari ancaman dari serangan binatang buas. Karena pada umumnya tempat-tempat yang terdapat genangan air, menjadi tempat minum dari binatang-binatang liar di sekitar gunung.

Jangan mendirikan api unggun bilamana tidak benar-benar membutuhkan 


Tujuan kita membuat api unggun selain untuk mengusir hawa dingin juga bertujuan untuk mengusir binatang buas disekitar kita. Oleh karenanya bilamana anda tidak merasa kedinginan dan di sepanjang jalur dirasa tidak ada ancaman binatang buas, sebaiknya tidak perlu mendirikan api unggun. Salah satu penyebab dari kebakaran kawasan puncak gunung adalah dari api unggun yang lupa dipadamkan atau api unggun yang ditinggalkan oleh pendaki dengan kondisi tidak benar-benar padam. Dan menjadi kewajiban bagi kita untuk turut serta memadamkan bekas api unggun jika kita menemuinya di sepanjang jalur pendakian yang beresiko dapat menyala kembali apabila terkena angin.

Tidak mengambil serta merusak baik itu tanaman atapun benda lain di kawasan gunung


Kawasan gunung memang mempunyai beribu pesona yang menarik perhatian kita termasuk keanekaragaman hayati di dalamnya. Terlepas dari semua itu, ketika di gunung kita hanya sebagai pengunjung dan kita tidak berhak membawa apapun terkecuali gambar dan sebuah kenangan perjalanan. Pada umumnya banyak pendaki yang ingin membawa pulang bunga edelweis untuk dijadikan kenang-kenangan. Beberapa orang beranggapan “hanya” mengambil sebuah bunga tak akan berpengaruh seberapa mengingat di gunung banyak dijumpai edelweis yang bermekaran. Namun bila ada 100 orang pendaki berfikiran dan melakukan tindakan yang anda lakukan maka bisa anda bayangkan dalam satu tahun kawasan tersebut akan banyak mengalami kerusakan akibat banyak edelweis yang sudah dipetik atau diambil. Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya dapat menikmati keindahan edelweis dari foto yang ada.  Marilah kita meninggalkan keegoisan kita dengan tetap menjaga kelestarian alam ini untuk generasi yang akan dating.


Jangan mencemari sumber air yang ada

Di beberapa gunung memang terdapat sumber air yang bisa kita manfaatkan, misalkan di gunung Lawu terdapat sendang Drajad yang airnya bisa kita ambil dengan mudah. Bijak-bijaklah mengambil air dari sumber tersebut. Janganlah anda mencemari sumber air yang ada. Ingatlah bahwa tidak hanya anda sendiri yang menggunakan sumber air itu, namun juga bermanfaat untuk pendaki-pendaki lainnya.

Jangan berebut melintasi jalur pendakian


Kita diciptakan sebagai makluk beretika dan itulah yang membedakan kita dengan makluk lainnya. Bila anda melintasi jalur pendakian yang ramai, antrilah, jangan berebut bahkan memaksa menyerobot anggota lainnya. Bersikap sopanlah dengan pendaki lainnya, sapalah mereka karena mereka adalah orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama dengan diri anda.

Hindari berpikiran negatif

Larangan atau pantangan yang terakhir adalah hindari berpikiran negatif. Sikap dan cara berpikir positif harus kita kembangkan dan kita jaga selama melakukan perjalanan. Cara berpikir positif akan memberikan energi positif dalam diri kita untuk bertindak. Saya mempunyai pengalaman bersama rekan saya ketika melakukan pendakian di salah satu gunung di daerah Temanggung.  Ketika melintasi medan yang cukup curam, rekan saya tersebut mengeluh “ treknya sulit, jangan-jangan saya nanti jatuh terpeleset”  dan ternyata memang benar, rekan saya tersebut jatuh terpeleset. Entah kejadian tersebut kebetulan atau tidak, namun sebaiknya kita tetap tidak mengeluh menghadapi trek sesulit apapun. Mendaki gunung adalah keputusan kita, oleh karenanya kita harus menjalaninya dengan sukacita apapun kondisinya.

Semoga artikel mengenai 15 pantangan saat mendaki gunung ini bermanfaat......dan selalu ingat.....



" Leave nothing but footprints, take nothing but picture, and kill nothing but time"


Salam.....


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "15 pantangan saat mendaki gunung yang sebaiknya ditaati"

Post a Comment