cerita pendakian gunung andong magelang 1726 mdpl

Pendakian gunung andong magelang 1726 mdpl ~ Satu lagi gunung di Jawa Tengah yang menjadi surganya tempat camping ataupun tempat untuk para pendaki guna menyalurkan hobinya di akhir pekan. Nama gunung itu adalah gunung Andong. Mengapa harus ke gunung Andong? Alasannya adalah gunung ini hanya memerlukan waktu 2 jam perjalanan untuk sampai puncaknya. Alasan lainnya, gunung Andong memiliki pemandangan sunrise yang istimewa. Gunung Andong juga mudah diakses dari kota-kota lain seperti dari Solo, Yogyakarta, Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya. 

Gunung andong terletak di antara Ngablak dan Tlogorjo, Grabag, Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Gunung yang memiliki ketinggian 1726 mdpl ini selalu ramai dikunjungi oleh penikmat alam untuk camping ataupun sekedar refresing melepaskan penat sambil ngadem di hutan pinusnya yang asri.

pendakian gunung andong


Adapun saya sebagai seorang penikmat alam, saya tergelitik untuk mneyinggahi gunung Andong ini sebagai tempat tujuan saya camping di akhir pekan. Oleh karenanya saya mengajak ketiga rekan saya yang bernama Andri, rumahnya kebetulan bersebelahan dengan rumah saya dan dua lainnya adalah Ari serta Wahyu, rekan saya ketika berada di bangku SMP, mereka juga mempunyai hobi traveling, sama seperi saya. Pengalaman saya mendaki gunung Andong memang sudah lama, yakni sekitar bulan April tahun 2015, namun tidak ada salahnya saya ceritakan kepada rekan-rekan pembaca Ruang Pendaki untuk dapat dijadikan referensi ketika akan mengunjungi tempat ini.

Perjalanan ke andong dari Yogyakarta

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, gunung Andong terletak di Grabag Magelang Jawa Tengah. Untuk mencapai lokasi basecamp pendakian gunung ini tidaklah sulit. Karena saat ini beberapa lokasi dapat dicari menggunakan aplikasi GPS pada smartphone yang saat ini rata-rata orang sudah memilikinya. Untuk lebih mudahnya saya start dari kota  Yogyakarta. Dari kota Yogyakarta ke utara melewati Jalan Magelang sampai ke Terminar Tidar. Dari terminal tidar masih lurus hingga menemukan trafficlight yang pertama, kemudian belok ke kanan ( arah Ketep-Kopeng ) kita mengikuti arah menuju ke pasar Ngablak ( perhatikan gapura pasar Ngablak yang berwarna biru ). Setelah sampai disana kita berbelok ke kiri di gapura pertama menuju ke arah Grabag. Jika sobat melewati lapangan sepak bola Ngablak berarti sobat pada jalur yang tepat. Dari lapangan sepakbola, kita lurus sekitar 2 km sampai menemukan pertigaan makam dusun Kenteng ( perhatikan arah penunjuk jalan ) belok kiri dan ikuti jalan tersebut sampai menemukan penunjuk selanjutnya ( sampai menemukan SD Girirejo II), kita belok kanan dan tidak jauh dari tempat itu sampailah kita di Dusun Sawit. Oya jika anda dari Yogyakarta, anda juga akan menemukan basecamp pendakian merbabu di sebelah kanan anda ketika melewati rute ini, dapat anda jadikan kegiatan jika anda ingin melakukan pendakian gunung Merbabu via suwanting


Untuk sampai ke basecamp kita berempat menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam dimulai dari kecamatan Jogonalan Klaten melalui jalur alternatif, yakni kecamatan Turi dilanjutkan melalui jalan Magelang barulah sampai pasar Ngablak. Kami salah mengambil jalur untuk menuju basecamp gunung Andong, karena seharusnya perjalanan akan lebih dekat jika kita melalui Kopeng Boyolali dibandingkan melalui Magelang untuk sampai di pos basecamp Andong. Jika anda dari kota Klaten saya menyarankan melalui kecamatan Jatinom-Boyolali-Kopeng untuk mencapai basecamp pendakian gunung Andong. Jika ditotal perjalanan yang saya lakukan sama halnya mengitari dua gunung yakni gunung Merapi dan gunung Merbabu. 


Basecamp gunung Andong

Sampai di desa sawit kita akan menemui papan yang berisikan informasi petunjuk arah menuju ke basecamp. Terdapat 2 basecamp yang menjadi pintu awal sebelum anda melakukan pendakian ke gunung Andong. Yang pertama adalah base camp yang dikelola oleh karang taruna desa setempat yakni base cam Taruna Jaya Giri. 



Menurut informasi yang saya peroleh basecamp ini lebih ramai dibandingkan dengan basecamp satunya yakni basecamp milik mbah Jono / Solikin. Setelah sampai basecamp kami dipersilahkan untuk beristirahat sambil menyiapkan barang-barang yang harus dibawa saat mendaki gunung. Basecamp Taruna Jaya Giri mempunyai ruangan yang luas berkisar 4x6 meter dan sangat cukup untuk menampung belasan pendaki.  Fasilitas di basecamp ini adalah : ruangan atau aula yang luas, kamar, mandi, mushola yang letaknya tidak jauh dari basecamp, sarana instalasi listrik untuk mengisi baterai smartphone atau baterai senter anda, serta sebuah papan informasi yang berguna bagi kita untuk memperoleh gambaran tentang medan yang akan kita lewati untuk sampai ke puncak gunung Andong.    


Awal pendakian 

Setelah dirasa cukup beristirahat, kami bertiga memulai perjalanan pendakian gunung Andong. Sebelumnya kami mengurus retribusi terlebih dahulu sebesar Rp. 6000; mengisi buku daftar pendakian serta membayar biaya parkir sepeda motor. Kami diberikan sebuah peta panduan untuk menuju ke puncak dari gunung Andong. Di awal perjalanan kami melewati jalan diantara rumah-rumah penduduk. Setelah keluar dari kampung kita melewati ladang yang sebagian besar ditanami oleh tanaman sayuran berupa kubis dan bunga kol serta sayuran lainnya. 

gapura masuk pendakian gn.Andong

Sekitar 5 menit dari basecamp kita akan menemukan pertigaan kecil. Selanjutnya kita mengambil arah ke kanan. Tidak sampai 200 meter melangkah maka anda akan dapat melihat gapura yang menjadi pintu masuk pendakian gunung Andong. Di perjalanan menuju pintu masuk pendakian ini kita dapat melihat beberapa gunung dari kejauhan seperti gunung Merapi, Merbabu, Gunung Sindoro dan kembarannya yani Gunung Sumbing. 


Pos 1 Gili Cino 

Menurut informasi yang kami peroleh tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencapai puncak gunung Andong, yakni berkisar 2 jam perjalanan terhitung dari gapura masuk area pendakian. Pendakian untuk sampai ke puncak akan melewati 2 pos yakni : pos pertama  Gili Cino dan pos yang Kedua adalah pos Watu wayang. Setelah melewati gapura masuk tadi, kami mulai masuk ke dalam hutan pinus yang sangat asri. Pada waktu itu kami mendaki pada petang hari menjelang Maghrib. Oleh karenanya, kami menggunakan penerangan senter selama perjalanan. Medan yang dilalui di hutan pinus sendiri bagi saya tergolong ringan. Ringan kerena pada area ini sudah disediakan anak tangga sederhana yang dibuat oleh warga sekitar untuk memudahkan perjalanan kami. Setelah kurang lebih 40 menit berjalan akhirnya kami sampai di pos yang pertama yakni pos Gili Cino. 


peta jalur pendakian


Pos Gili Cino merupakan sebuah area yang cukup landai yang dapat kita manfaatkan untuk sekedar berisirahat sambil melepas lelah dan mengatur kembali pernafasan kita. Suara binatang malam dan suara gesekan ranting pohon yang terkena hembusan angin malam itu menemani perjalanan kami. Menurut informasi yang saya peroleh, di pos 1 ini ada sebuah gubuk yang dapat kita jadikan tempat untuk beristirahat. Namun pada malam itu kami tidak menemukan gubuk tersebut. Yang ada hanyalah pohon yang roboh entah itu terkena angin ataupun ditebang oleh warga sekitar. Oya di pos 1 ini juga masih terjangkau oleh sinyal beberapa Provider. Saya menggunakan provider s*mpati yang katanya provider paling indonseia dengan harga juga “Indonesia” banget.. keberadaan sinyal tersebut saya manfaatkan untuk memberikan kabar kepada orang tua di rumah karena saya lupa memberikan kabar ketika saya sampai atau ketika berada di basecamp.


Pos 2  watu wayang

Setelah cukup beristirahat, tidak sampai 15 menit kami melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya yakni watu wayang. Dari pos 1 menuju pos 2, medan yang kami lewati sedikit lebih menanjak namun akan landai pada daerah sekitar sumber mata air. Membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai pos 2, melewati beberapa area yakni watu gambar dan sumber mata air yang berada disebelah kanan jalur pendakian. Sampai di pos 2 ( watu wayang ) ada 2 jalur alternatif yang bisa anda pilih, anda bisa mengambil jalur kanan untuk lebih cepat sampai ke puncak dengan konsekuensi jalurnya lebih curam, atau mengambil jalur yang lurus. Medan yang dilalui bilamana kita mengambil jalur yang lurus lebih landai dibandingkan jalur yang pertama namun sedikit lebih lama mencapai puncak karena harus sedikit berjalan memutar. Karena pada waktu itu kita cukup banyak waktu, kita berempat mengambil jalur yang lurus. 

Setelah beberapa saat berjalan sampailah kita di pertigaan ke arah puncak makam. Sampai disini kabut mulai menyelimuti daerah sekitar kami sehingga mengganggu jarak pandang kami. Senter LED yang kami pakai tidak dapat menembus kabut sehingga kami sangat berhati-hati dalam mengambil langkah untuk melanjutkan perjalanan menuju ke arah puncak jiwa atau camping ground. Kami mengambil arah kanan setelah sampai di pertigaan tadi untuk menuju ke puncak jiwa. Tidak sampai beberapa saat sampailah kita ke puncak Jiwa atau camping ground. Saya melihat jam tangan saya menunjukkan pukul 20:15, jadi lama perjalanan yang kita tempuh terhitung dari gapura masuk pendakian gunung Andong sekitar 2 jam lebih 20 menit. Perjalanan tersebut tergolong perjalanan santai karena kita beristirahat dengan cukup lama, bila anda berjalan lebih cepat dibandingkan kami tentunya akan membutuhkan waktu tempuh yang relatif lebih singkat.


Malam berselimut kabut


Sampai di puncak jiwa kami menemukan beberapa tenda yang sudah berdiri. Malam itu memang tergolong malam yang sepi. Berbeda dengan camping ketika hari libur atau ketika akhir pekan tiba. Beberapa rekan saya menceritakan pengalamannya bermalam di gunung Andong, tidak mendapat tempat untuk mendirikan tenda di camping ground. Berbeda pada malam itu, malam yang sepi dengan hanya beberapa tenda disana membuat kami leluasa memilih tempat untuk mendirikan tenda. Karena malam itu kabut sangat cepat dan lebat, kami buru-buru mendirikan tenda, takut baju serta peralatan kami akan basah bila terpapar dengan kabut dengan waktu yang lama. Tidak sampai 10 menit tenda sudah berdiri, kami segera memasukkan barang-barang kami di ke dalam tenda. Di dalam tenda kami segera memasak air, membuat minuman panas untuk menghangatkan badan kami serta  makan makanan yang kami bawa dari rumah. Sayup-sayup terdengar beberapa pendaki yang mulai berdatangan di camping ground, menyusul kami untuk menghabiskan malam di puncak Andong.

Malam dengan berselimut kabut, mungkin lebih tepat untuk menggambarkan suasana bermalam kami di puncak gunung Andong. Gunung Andong memang labih rendah dibandingkan dengan merbabu ataupun lawu, kedua gunung itu pernah saya singgahi. Namun saya belum pernah mengalami kabut setebal malam itu di Gunung andong. Kabut yang tebal ditambah dengan angin yang cukup kencang seakan mengonyak tenda kami. Beberapa bagian tenda pun mulai rembes dengan air dari embun yang terlalu banyak. Alhasil malam itu kami tidak dapat tidur dengan tenang. Rencana yang sebelumnya menikmati malam berhias lampu dari kota-kota kecil di puncak Andong kandas sudah. Kami baru bisa tertidur sebentar karena angin yang menerpa tenda kami berangsur mereda sekitar pukul 02:00 pagi hari.


Berburu sunrise di puncak Andong 

Hal terbaik yang sangat anda lewatkan ketika singgah di gunung ini adalah melihat sunrise. Tepat pukul 04:30 rekanku ari membangunkanku dan mengajak keluar dari tenda. Dia bersemangat untuk memburu dan mengabadikan sunrise pagi itu. Saperti di pendakian-pendakian sebelumnya, saya tidak langsung beranjak dari tempat tidur saya, karena saya memang orang yang memerlukan waktu yang lebih lama untuk dapat terjaga sepenuhnya dari tidur. Dalam computer mungkin saya tipe computer yang bootingnya lebih lama hahaha…Baru jam 05:00 saya keluar dari tenda menyusul beberapa rekan saya keluar berburu foto di puncak Andong. Kami berempat sepakat untuk meninggalkan tenda kami guna melanjutkan perjalanan menuju ke puncak alap-alap.





Andong dengan punuk sapinya yang unik

Saatnya ngesot…mungkin anda sudah membaca petualangan ke gunung andong yang ditulis secara apik oleh salah satu traveler, blogger, penulis, dan kini sudah menjadi seorang ibu :D  yakni mbak Elisabeth Murni di blognya yang kece yakni ransel hitam. Blog itu juga yang membuat saya tertarik untuk menyambangi gunung Andong ini. Tidak beberapa langkah meninggalkan camping ground, kami dihadapkan pada sebuah jalur berbentuk seperti punggung sapi (punuk sapi-jawa). Dengan lebar yang tidak sampai satu meter. Kita harus melewati  jalur ini untuk mencapai puncak alap-alap. Jalur ini memiliki sisi jurang pada kedua belah sisinya. 




Mau sisi kanan atau kiri tetap saja tidak ada pilihan untuk jatuh. Oleh karena itu sebaiknya kita berhati-hati ketika melewati jalur ini, jangan berebut lewat, tetap focus, jangan bengong apalagi melongo sebagai kunci sukses lolos dari jalur ini. Tiupan angin akan memberikan anda sensasi lebih ketika meniti jalur nan sempit khas dari gunung Andong.


Golden sunrise di puncak alap-alap 

Setelah sukses melawati punukan dari gunung andong sampailah kami di puncak alap-alap. Perlahan tapi pasti sang surya dengan segala keagungannya menampakkan diri di ujung timur cakrawala Indonesia. Sinar warna orange mulai merubah pemandangan yang ada. Kabut tipispun turun, di lembah kasih lembah mandalawangi........ halah…..

Maksud saya  kabut tipis mulai tergantikan dengan sinar orange yang menjadi pertanda pagi akan sagera tiba. Kami bersama dengan pendaki-pendaki yang lain tidak melewatkan moment itu. Beberapa foto kami ambil di puncak alap-alap. 





Beruntungnya kami pada waktu itu cuaca berangsur berubah menjadi cerah, berbeda 180 derajat dari cuaca malam dimana kami sampai di puncak Andong. Sangat istimewa pemandangan di pagi itu karena kami dapat melihat beberapa gununggagah berdiri seakan setia menunggu kami untuk menyambangi puncak-puncak tersebut. Gunung memang tidak akan pernah kemana, di puncak kami dapat melihat gunung Merapi, Merabu, di sebelah selatan tempat kami berpijak serta Gunung sindoro dan Sumbing pada sisi barat kami. Tidak lupa dataran tinggi Dieng dapat terlihat dari kejauhan. Dataran tinggi tersebut terlihat seperti tembok raksasa hasil karya arsitek alam semesta Tuhan yang Maha Esa. 




Foto-foto tersebut hanyalah secuil dari keindahan-keindahan dari gunung Andong yang bisa tertangkap lensa kamera kami. Keindahan sebenarnya adalah ketika anda bisa merasakan sendiri atmosfer dari gunung Andong secara langsung.

Setelah puas berfoto dan badan terasa capek serta lapar, pukul 07:00 kami sepakat untuk meninggalkan puncak alap-alap menuju tenda kami di camping ground untuk sekedar beristirahat dan memasak makanan untuk sarapan pagi. Kondisi cuaca yang cerah membuat kami enggan untuk segera meninggalkan camping ground. Setelah cukup beristirahat dan selesai melipat tenda serta membersihkan sampah-sampah sisa makanan kami, kami berbincang-bincang dengan beberapa pendaki yang berasal dari luar kota. Mereka datang dari tempat yang cukup jauh yakni dari Jakarta, Bandung dan beberapa berasal dari Bogor. Sekitar pukul  09:00 kami bergegas turun dari puncak melewati jalur yang sama dengan jalur yang kita lewati sebelumnya. Pemandangan diperjalanan turun tidak kalah menarik dibandingkan dengan pemandangan kita menuju ke puncak. Kami mengabadikan bebarapa foto dalam perjalanan kami turun menuju ka basecamp.

sindoro & sumbing setia menunggu kedatangan kami

merbabu & merapi



Hutan pinus yang asri  

Diperjalanan pulang kami kembali melewati hutan pinus yang menjadi awal perjalanan kami memasuki kawasan gunung andong. Hutan pinus yang kami lewati ternyata jauh dari yang kita bayangkan semalam. Hutan dengan banyaknya pohon pinus yang menjulang diselingi dengan pohon-pohon perdu lainnya menambah keasrian tempat itu.


cahaya terang 507


Udara di daerah itu sangatlah bersih jauh dari polusi perkotaan. Menurut saya pribadi hutan pinus disini lebih asri dan lebih indah jika dibandingkan dengan hutan pinus yang berada di daerah Mangunan Yogyakarta. Karena seringnya kami berhenti alhasil perjalanan pulang lebih lama dibandingkan dengan perjalanan ketika kita menuju puncak gunung Andong. Di setiap kesempatan kami berhenti sejenak, mengambil foto sambil ngobrol pengalaman kami. Tidak beberapa lama sekitar jam 11:30 kami keluar dari hutan pinus dan kembali ke basecamp untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan pulang.

Dari pengalaman saya tersebut. Saya dapat mengambil kesimpulan.

  • Gunung andong merupakan gunung dengan ketinggian sedang yang dapat anda kunjungi tanpa harus menginap atau mendirikan tenda disana. Banyak juga dijumpai solo hiking ke gunung ini terutama pada siang hari.

  • Jalur pendakian gunung ini relative mudah, karena beberapa sudah dibuat anak tangga sederhana oleh penduduk sekitar sehingga memudahkan kita melakukan perjalanan menuju puncak. Selain itu di gunung andong juga sudah tersedia penunjuk arah yang jelas hasil karya beberapa MAPALA yang sangat membantu kita sehingga kita akan lebih mudah mencapai puncak tanpa harus takut keluar jalur pendakian.

  • Gunung andong saya rekomendasikan bagi anda yang baru ingin menggeluti hobi pendakian sebelum naik ke level gunung yang lebih tinggi ( bisa disebut jalur latihan ) jalur yang sedikit menanjak serta banyak bonus tentu tidak mudah membuat anda capek.

  • Anda tidak perlu kawatir akan kehabisan air selama melakukan pendakian di gunung Andong karena terdapat sumber mata air yang berada pada sisi sebelah kanan dari jalur. Mata air tersebut oleh penduduk sekitar disalurkan melalui pipa kecil sehingga memudahkan kita yang ingin mengambil air dari mata air tersebut.


Hal yang perlu diperhatikan   

Jagalah sikap, perilaku anda selama melakukan pendakian. Jangan melakukan tindakan yang dapat merugikan diri anda sendiri dan orang lain. Dan ikutilah norma yang ada. 

Jagalah kelestarian alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, mari kita wariskan lingkungan yang asri kepada anak cucu kita dikemudian hari.

Pendakian gunung Andong memang relatif mudah,tapi sebaiknya anda jangan menyepelekan dengan tidak membawa barang yang harus dibawa saat mendaki gunung. Latihan fisik tetap diperlukan beberapa hari sebelum melakukan pendakian.

Tetap ingat Ingat,

Take nothing but pictures.
Leave nothing but footprints.
Kill nothing but time.
Info basecamp

Basecamp Taruna Jayagiri
Rumah mbah Jono/ Solikin.
Rt 3/ Rw 5, Dusun Sawit, Desa Girirejo
Kecamatan Ngablak. Kabupaten Magelang
CP. 08156507492

Semoga cerita pendakian gunung Andong ini bermanfaat

salam.

Subscribe to receive free email updates:

5 Responses to "cerita pendakian gunung andong magelang 1726 mdpl"

  1. dulu....dulu banget ada tanaman kantong semar di sekitaran Gunung Andong, tapi kini sudah bisa dikatakan punah dari habitat tersebut,,
    terlebih sekarang termasuk gunung nge-hits di kalangan pemula dan pencoba... ahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. dulu banget itu kapan mas ghozaliq?? hahahaha, ga begitu memperhatikan soale, mungkin masih ada ya tp g di jalur pendakiannya....

      Delete
  2. Yang terpenting tetap jaga kebersihan Gunung Andong dari sampah-sampahmu, Buang Sembarangan Mantan Boleh, Buang Sampah Sembarangan Jangan! Salam Lestari

    ReplyDelete
  3. Yang terpenting tetap jaga kebersihan Gunung Andong dari sampah-sampahmu, Buang Sembarangan Mantan Boleh, Buang Sampah Sembarangan Jangan! Salam Lestari

    ReplyDelete