pendakian lawu via cemoro sewu

Pendakian gunung lawu via cemoro sewu~ Gunung lawu merupakan salah satu gunung berstatus gunung api istirahat yang terletak di perbatasan kabupaten Karanganyar Propinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Magetan Propinisi Jawa Timur. Gunung Lawu merupakan salah satu gunung yang menjadi tujuan para penikmat alam untuk melakukan kegiatan pendakian. Selain karena medannya cukup mudah, akses untuk menuju ke pos pendakiannya pun tidaklah terlalu sulit. Gunung yang mempunyai ketinggian 3265 mdpl ini memiliki 3 jalur pendakian dan akan ramai dengan pendaki terutama pada hari libur besar dan akhir pekan. Dikesempatan kali ini saya akan membagikan pengalaman tentang pendakian gunung Lawu Via Cemoro Sewu yang saya lakukan di akhir tahun 2013 silam.

pendakian lawu via cemoro sewu

Kejadian kebakaran beberapa waktu lalu di kawasan gunung Lawu menggelitik keinginan saya untuk kembali menulis tentang pengalaman pendakian gunung Lawu via Cemoro Sewu yang sudah tercecer dengan beberapa artikel-artikel saya yang lainnya di blog lama saya. Agar tidak menjadi sampah di dunia maya, saya menuliskan kembali di blog baru saya yakni Ruang Pendaki yang saat ini sedang anda baca. Pengalaman mendaki gunung lawu merupakan salah satu pengalaman tak terlupakan. Gunung Lawu menyimpan pesona keindahan yang dapat menjadi magnet tersendiri bagi orang untuk kembali menyinggahi tempat ini. 

Perjalanan ke Cemoro Sewu

Perjalanan pendakian gunung Lawu via Cemoro Sewu kali ini, saya ditemani atau lebih tepatnya saya bergabung dengan beberapa rekan yang berasal dari salah satu rumah sakit di Yogyakarta tempat saya bekerja. Kelompok kami berjumlah 9 orang, adapun yang ikut diantaranya ; saya sendiri, Bona, Ronald, Cici, Silvia, Rudi, Yusto, Andro dan yang terakhir adalah Biksu.

Perjalanan kali ini dimulai dari stasiun Tugu Yogyakarta. Sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya kami berangkat dari stasiun Tugu Yogyakarta pukul 08:00 dengan menggunakan kereta api pramek menuju ke stasiun Balapan Solo. Tidak sampai 1,5 jam perjalanan, rombongan kami sudah sampai stasiun Balapan Solo. Setelah turun dari kereta kita berjalan kaki menuju ke arah terminal Tirtonadi untuk berganti sarana transportasi menggunakan bus kearah terminal Karangpandan Karanganyar. Setelah beberapa waktu menunggu bus, akhirnya kita memperoleh bus jurusan ke terminal Karangpandan, perjalanan berlanjut kurang lebih 45 menit, sampailah kita di terminal Karangpandan. Dari terminal Karangpandan kami beralih transportasi menggunakan angkutan menuju ke pos pendakian Cemoro Sewu.

Cemoro sewu

Pos pendakian Cemoro Sewu sendiri adalah satu dari 3 pos pendakian di Gunung Lawu yang dapat dijadikan jalur pendakian oleh para pendaki untuk mencapai puncak dari gunung Lawu. Pos dengan ketinggian 1878 mdpl ini terletak di desa Cemoro Sewu, Plaosan, Kabupaten Magetan jawa Timur. Pos ini akan ramai oleh para pendaki yang hendak melakukan pendakian terutama pada akhir pekan dan hari besar Nasional lainnya. Pos ini termasuk pos pendakian dengan daya tampung yang tergolong sedang. Adapun fasilitas yang disediakan pos ini adalah : aula, warung makan yang dapat kita temui di sekitar pos, toko souvenir, mushola serta kamar mandi yang terletak di seberang jalan pos pendakian. Kami memilih melakukan pendakian via Cemoro Sewu karena berdasarkan informasi yang kami peroleh, jalur pendakian melalui Cemoro Sewu lebih cepat untuk mencapai puncak dibandingkan dengan 2 jalur  lainnya

cemoro sewu

Jika kita melalui jalur Cemoro Sewu, kita akan melalui 5 pos. Dengan melewati jalur ini, kita lebih cepat sampai puncak namun dengan catatan jalurnya lebih “ngetrek” dibandingkan dengan jalur melalui Cemoro Kandang. Jika melewati jalur ini kita berarti melewati punggungan bukit dari gunung Lawu. Berbeda jika kita melalui jalur Cemoro Kandang, Jalur yang dilewati termasuk jalur yang landai namun akan memakan waktu yang cukup lama karena bila kita lihat di peta, jalur ini melewati lereng bukit dan perjalanan kita mengitari lereng bukit tersebut. 

Setelah beristirahat kurang lebih 1 jam di basecamp, dan setelah memastikan dan mengecek kembali barang yang harus dibawa saat mendaki gunung, kami memulai perjalanan tepat jam 16:00. Sebelum memulai perjalanan kami membayar retribusi sebesar Rp. 10,000; kami berdoa terlebih dahulu agar diberikan kelancaran selama perjalanan nanti. Perjalanan dari basecamp menuju ke pos 1 dimulai dengan melewati jalan setapak dengan tatanan batu. Rimbunnya pohon pinus perkusi dan tanaman perdu lainnya menambah keasrian kawasan itu. Dari basecamp menuju pos 1 kita juga melewati ladang entah itu milik penduduk atau milik dinas perhutani yang dipakai oleh penduduk untuk menanam tanaman sayuran berupa wortel dan kubis. Oya di perjalanan menuju ke pos 1 ini kita akan menemukan shelter kecil, terdiri dari bangunan semi permanen dengan beberapa warung yang dapat kita jadikan sebagai tempat untuk beristirahat.

Pos 1-wes-wesan

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1,5-2 jam dan setelah melewati beberapa pos bayangan berupa gubuk-gubuk kecil yang dibuat oleh  warga sebagai tempat berteduh serta melewati sumber air Panghuripan yang dikeramatkan oleh warga, akhirnya kita sampai di pos 1.


perjalanan menuju pos 2

Sampai disini kami bertemu dengan beberapa rombongan pendaki yang sedang beristirahat, terdapat beberapa warung di pos ini. Beberapa pendaki memanfaatkan warung yang tersedia untuk sekedar makan dan mengisi perbekalan dengan jajanan yang disediakan. Menurut informasi yang saya peroleh, warung ini hanya buka ketika hari Kamis sampai dengan hari Minggu dan ketika musim pendakian. Karena tempat itu penuh dengan pendaki yang beristirahat, kami memilih tempat di bagian atas dari pos 1 untuk beristirahat. Oya, jalur pendakian dari basecamp sampai di pos 1 ini masih didominasi dengan jalan setapak dengan tatanan batu yang cukup rapi. 


Pos 1- pos  2 ( watu gedeg )


Kami beristirahat kurang lebih 15 menit di pos 1 sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke pos 2. Perjalanan menuju ke pos 2 diawali dengan medan bebatuan yang cukup menanjak dengan kemiringan yang cukup tajam. Berbeda dengan medan yang telah kami lewati dari basecamp menuju pos 1, medan pendakian dari pos 1 menuju pos 2 ini bebatuan mulai tidak beraturan. Medan yang tidak beraturan ditambah pada waktu itu senter cap macan yang saya bawa mati membuat saya harus berjalan mengandalkan penerangan dari senter rekan saya yang berada di belakang. Saya pribadi mulai keteteran di perjalanan kali ini. Mungkin karena sebelumnya sudah kecapekan ketika melakukan perjalanan dari Solo menuju ke basecamp, saya adalah anggota kelompok yang sering meminta “break” pada perjalanan malam itu.




Perjalanan menuju ke pos 2
Dalam perjalanan menuju ke pos 2, kami melewati watu jago. Watu jago sendiri adalah sebuah area yang terdiri dari beberapa bebatuan, salah satu batu tersebut berdiri menjulang diantara batu-batu lainnya. Sangat disayangkan memang, di area ini banyak sekali bekas aksi-aksi vandalisme yang dilakukan oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Agaknya kesadaran akan menjaga kelestarian alam dengan menjaga kebersihan lingkungan masih sangat kurang diantara para penikmat alam yang menyinggahi tempat ini. Tidak beberapa menit dari watu jago, kami sampai di pos 2. Pos 2 adalah suatu area yang luas serta merupakan area yang ideal untuk mendirikan tenda. Pada malam itu banyak dijumpai pula pendaki yang mendirikan tenda. Karena tidak mendapatkan tempat, kami akhirnya mendirikan tenda di bagian atas dari pos. Rasa lelah dan kantuk membuat kami sepakat untuk bermalam di pos 2 ini. Kami mendirikan tenda dan makan malam dengan perbekalan yang kami bawa dari rumah. Tidak memerlukan waktu yang lama bagi saya untuk dapat memejamkan mata, karena saya pribadi sangat capek, meninggalkan rekan-rekan saya yang masih mengobrol di luar tenda.

Pos 2 - Pos 3 ( watu gede )


Alarm Hp berdering tepat jam 02:00, sejujurnya saya pribadi sangatlah enggan beranjak dari tempat tidur. Selain karena masih ngantuk dan capek, udara malam itu sangatlah dingin. Rekanku mengajak segera bergegas untuk melanjutkan perjalanan, 2 orang rekanku cewek Cilvia dan Cici membuatkan kami sarapan dan kopi panas, beruntungnya kami ada teman pendaki cewek tangguh yang sangat pengertian hahaha....setelah selesai sarapan tepat jam 02:30 kami ber-7 melanjutkan perjalanan, sedangkan mas Rudi dan Biksu memilih untuk tinggal menjaga tenda. Perjalanan dimulai dengan medan bebatuan yang menanjak serta sedikit bonus.

sarapan sebelum memulai perjalanan

mas Rudi


Kami dihajar dengan tanjakan demi tanjakan menuju ke pos 3. Medan yang bebatuan dengan sedikit bonus serta ditambah dengan rasa kantuk menambah berat kaki ini melangkah. Sepertinya perjalanan dari pos 2 adalah medan yang paling berat jika kita melakukan pendakian melalui cemoro sewu, kami dihajar tanpa ampun di jalur ini. Setelah 2 jam berjalan dengan beberapa kali break, akhirnya kami sampailah di po 3. Saat itu waktu menunjukkan pukul 04:00, kami sudah dapat mencium bau belerang yang kemungkinan berasal dari kawah Condrodimuko. Kawasan ini berupa lembah atau sungai kawah yang menjadi pemisah antara Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Jawa Timur. Memang Gunung Lawu saat ini dalam kondisi tidur, masih ada aktivitas vulkanik dan tidak menutup kemungkinan suatu saat gunung ini akan dapat meletus lagi.

Pos 3 – Pos 4 ( watu kapur )

Sesudah beristirahat di pos 3, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 4, jika kita sebelumnya dihadapkan dengan tanjakan yang menanjak serta tanjakan yang cukup curam di pos 3 sama halnya medan yang kita lalui menuju pos 4. Tanjakan bebatuan curam sangat menguras tenaga kami. Sialnya saya menggunakan sandal gunung yang sudah berumur, sehingga bantalan sangat tipis membuat kaki terutama pada bagian panggul dan lutut sangat terasa nyeri, bagi rekan-rekan yang ingin menyambangi gunung lawu via cemoro sewu, saya sangat menganjurkan memakai sepatu gunung dengan bantalan yang masih tebal, untuk dapat meminimalisir nyeri yang diakibatkan karena melintasi trek yang terdiri dari tanjakan berbatu. Perjalanan dari pos 3 menuju pos 4 lebih cepat dibandingkan perjalanan dari pos sebelumnya. Tidak disadari kami sampai di pos 4. Pos 4 merupakan area yang terdiri dari bebatuan kapur tanpa shelter. Tempat ini bukan merupakan tempat yang ideal untuk mendirikan tenda karena mengingat sempitnya area yang tersedia.

Pos 4 - Pos 5 ( sumur Jolotundo )

Setelah beberapa waktu kami beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke pos 5, diawali dengan trek yang lebih landai dibandingkan dengan medan yang sebelumnya dilalui. Pada waktu itu pagi sudah tiba, kami sudah dapat melihat cahaya berwarna orange yang muncul di ufuk timur. Kami menikmati golden sunrise tidak di puncak melainkan di perjalanan menuju ke pos 5. Pada waktu itu kami terpecah menjadi 2 kelompok. Rombongan Silvia, Ronald, Andro, serta Cici berjalan lebih dahulu meninggalkan kami bertiga yakni saya sendiri bersama 2 orang rekan saya yakni Bona dan Mas Yusto. Kami berjalan santai ( baca : kelelahan & kehabisan nafas ) dibandingkan rekan-rekan yang tadi.




Perjalanan ke pos 5 bisa dikatakan tidak terlalu berat, kami melewati jalan tanah dengan sedikit bebatuan, trek yang paling ringan bagi saya, kami menyusuri perbukitan, vegetasi mulai berkurang, pohon-pohon besar sudah jarang kami temukan. Di perjalanan, kami dapat melihat wisata Telaga Sarangan dari ketinggian, nampak pula punggungan gunung Lawu yang gagah berdiri.

Sumur Jolotundo

Tidak lama berjalan kami melewati goa Jolotundo yang berada di sisi kiri jalur, di dalamnya terdapat mata air. Tetapi untuk mencapai mata air tersebut tidaklah mudah. Karena letaknya cukup dalam dari bibir goa. Gua ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam 5 meter. Gua ini dikeramatkan oleh masyarakat dan sering dipakai untuk bertapa. Sumur ini berupa lubang bergaris tengah sekitar 3 meter. Untuk turun ke dalam sumur harus menggunakan tali dan lampu senter karena gelap. Di dalam sumur terdapat pintu goa dengan garis tengah 90 cm


Sendang drajad

Ketika melintasi area ini anda akan mendapati sebuah sumber mata air yang disebut dengan Sendang Drajad. Sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 2 meter. Meskipun berada di puncak gunung sumur ini airnya tidak pernah habis atau kering walaupun diambil terus menerus.

Warung makan Mbok Yem, warung makan tertinggi di Indonesia  

Ada yang unik bilamana anda mendaki gunung lawu melalui pos Cemoro Sewu, anda akan dapat menemui warung makan yang konon merupakan warung makan tertinggi di Indonesia. Tidak lain adalah warung Mbok Yem yang sudah terkenal di kalangan pendaki. Setelah melewati Sendang Drajat tinggal mengikuti jalan yang landai anda akan dapat menemukan warung sederhana ini. Pemiliknya adalah Markiyem yang sering disapa dengan Mbok Yem, tercatat sudah 25 tahun menghuni warung ini.

warung makan mbok yem

Di warung ini anda dapat memesan makanan dan minuman hangat sambil beristirahat di tempat yang disediakan. Selain makanan dan minuman hangat, warung sederhana ini dapat menampung banyak pendaki yang ingin beristirahat atau pendaki yang ingin menunaikan ibadah sholat. Selain menjajakan makanan, minuman serta menawarkan tempat untuk beristirahat, warung ini juga menyediakan toilet sederhana yang dapat kita gunakan. Mbok yem tidak mematok harga khusus untuk menggunakan fasilitas ini. Dengan adanya warung dan tempat peristirahatan tersebut tentunya akan sangat membantu para pendaki yang lelah dan kekurangan akan logistik untuk menempuh perjalanan selanjutnya.

Hargo dalem

petilasan majapahit


Gunung Lawu mempunyai 3 puncak. Salah satunya adalah Hargo Dalem. Oleh karena keterbatasan waktu, kami tidak ke Hargo Dalem, namun tidak ada salahnya saya menceritakan sedikit tentang puncak ini. Di Hargo dalem ada salah satu peninggalan dari kerajaan Majapahit. Tempat ini dipercaya sebagai tempat moksanya Prabu Bhrawijaya Pamungkas, salah satu raja Majapahit dari abad ke 15. Sampai sekarang di tempat ini masih terdapat sebuah petilasan yang disakralkan terutama oleh masyarakat Jawa dan oleh lingkungan dari Keraton Mangkunegaran Surakarta.

Rumah botol 

Bila anda mendaki gunung lawu, ada satu tempat unik yang sebaiknya dikunjungi, yakni rumah botol. Memang tak banyak orang yang mengetahui lokasi ini, letaknya di sebalah barat petilasan Hargo Dalem.  
rumah botol
sumber : IG Istaitanto

Hargo Dumilah 3265 mdpl

Perjalanan kami lanjutkan ke Hargo Dumilah, saya, mas Yusto dan Mas Bona ( 3 Mas Ketir ) sudah jauh tertinggal dibanding ladies" tangguh yang saya ceritakan di awal. Kami dibuat takjub dengan pemandangan " samudra di atas awan ", perjalanan ke Hargo Dumilah menembus semak-semak dengan jalan yang cukup licin. Berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, kami sampai di puncak sekitar pukul 06:30, dengan melewatkan moment melihat sunrise di puncak, tak apalah, kami sudah sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk Menggapai salah satu atap dari negeri nan elok, Indonesia. Kami dapat melihat beberapa puncak gunung, diantaranya Gunung Merapi dan Merbabu. Disisi timur juga terdapat Gunung, jika tidak salah Gunung Kelud.



Puncak Hargo Dumilah


Di puncak kami mengabadikan beberapa foto bersama dengan pendaki-pendaki lain yang tergabung dalam beberapa organisasi MAPALA. Perjalanan kami terbayar lunas. Di puncak kami menghabiskan waktu untuk foto-foto bersama dan beristirahat melepas lelah. Kurang lebih 1 jam kita menghabiskan waktu di puncak. Setelah puas berfoto-foto jam 09:00 kami sepakat untuk turun, melakukan perjalanan menuju pos 2, dimana kita mendirikan tenda. Perjalanan pulang pemandangannya juga istimewa, beberapa foto kami ambil di perjalanan pulang :    





di tepi sumur Jolotundo


Jika dapat saya rinci lama perjalanan sebagai berikut :
Basecamp-Pos 1                        = 1,5 jam
Pos 1 - Pos 2 Watu Gedeg          = 2 jam
Pos 2 - Pos 3 Watu Gede            = 2 jam
Pos 3 - Pos 4 Watu Kapur           = 2 jam
Pos 4 - Pos 5 Jolotundo               = 1/2 jam
Pos 5- Sendang Drajad                = 20 menit
Sendang Drajad-Hargo Dumilah = 1 jam

Jadi perjalanan efektif kami dari basecamp kurang lebih 9 jam untuk mencapai puncak. Dengan catatan, waktu tersebut belum ditambah dengan waktu tidur, packing, bongkar dan pasang tenda.

Tips mendaki gunung Lawu

  • Usahakan latihan fisik terlebih dahulu. Anda dapat melakukannya secara rutin beberapa hari sebelum melakukan pendakian
  • Untuk mendapatkan pemandangan yang bagus anda bisa melalui jalur pendakian Cemoro Kandang dengan melewati sabananya yang hijau serta turun melalui cemoro sewu. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa trek bila kita melalui Cemoro Kandang tidak seberat bila melalui cemoro sewu.
  • Jaga perilaku dan tutur kata anda selama perjalanan untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Gunung Lawu merupakan salah satu gunung yang dikeramatkan oleh masyarakat khususnya masyarakat Jawa. 
  • Untuk menghindari keramaian karena banyaknya pendaki,sebaiknya anda tidak melakukan pendakian pada akhir pekan.
  • Jangan AMBIL apapun selain FOTO, jangan TINGGALKAN apaun selain JEJAK dan jangan BUNUH apapun selain WAKTU.


Semoga artikel pendakian Lawu via Cemoro Sewu ini bermanfaat...

salam...


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "pendakian lawu via cemoro sewu"

Post a Comment