11 etika mendaki gunung yang harus ditaati oleh pendaki

Etika dalam pendakian ~ Sebagai seorang pendaki gunung dan penikmat alam sebaiknya kita mempunyai etika yang harus kita junjung tinggi tidak hanya dalam kegiatan pendakian saja, namun juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Berbicara mengenai etika dalam mendaki gunung, saya mempunyai pengalaman buruk ketika mendaki gunung Prau, salah satu gunung yang terletak di Propinsi Jawa Tengah. Pengalaman buruk, saya alami ketika di puncak gunung yaitu di bagian barat bukit Teletubies. Dimana pada sisi sebelah barat bukit seringkali dijadikan tempat pendaki untuk memenuhi kebutuhan eliminasi (BAK & BAB)

etika mendaki

Pada waktu saya ingat benar, disaat saya melintasi tempat itu hendak menuju ke bagian sisi barat puncak, untuk sekedar melihat telaga warna dan kawah belerang, saya menemui beberapa k*t*ran manusia di bagian sisi sebelah kanan jalan. Persis dibagian samping jalan yang dijadikan jalur manuju sisi barat bukit teletubies. Bagi pendaki lain yang tidak hati-hati melintasi tempat tersebut, tentu akan beresiko menginjak sisa pembuangan orang yang tidak bertanggung jawab itu. Pikir saya, apakah sebegitu egoisnya diri kita sehingga untuk urusan seperti itu memilih melakukannya pada jalur dimana pendaki lain dapat lewat dan tanpa sengaja dapat menginjaknya. 

Beberapa waktu lalu saya mampir di salah satu thread pada salah satu forum kegiatan outdoor dan pecinta alam di forum kaskus, yaitu OANC. Salah satu postingan yang menggelitik saya untuk berkomentar adalah pengalaman seorang pendaki yang mendaki gunung Gede pangrango, dan memanfaatkan sumber air yang ada di gunung itu. Karena mengambil air pada malam hati, dia (pendaki tersebut) tidak begitu memperhatikan daerah sekitar sumber air.  Air tersebut dibawanya ke tenda untuk dikonsumsi, begitu terkejutnya dia karena pag-pagi, dia mendapati sumber mata air tersebut tercemar oleh beberapa  k*t*ran manusia.

Dari cerita saya pribadi dan seorang pendaki diatas, didapatkan bahwa masih ada beberapa pendaki yang kurang memiliki kesadaran dan etika yang baik, terutama bagi sesama pendaki gunung. Terus etikanya seorang pendaki apa saja? Berikut ini sikap dan etika yang harus dimiliki pendaki gunung.


Tidak membuat keributan atau kegaduhan

Pernah mengalami bermalam dengan kelompok pendaki yang gaduh entah itu bercanda, gitaran ataupun memainkan music dengan sangat keras? Admin pernah mengalaminya, yakni di puncak andong. Saat rombongan kami tiba di camping ground, hanya ada beberapa tenda disana, dan salah satu tenda dimana terdengar suara orang mengaji di dalamnya. Tidak beberapa lama datanglah rombongan lainnya, rombongan ini sangat gaduh dan ada yang memperdengarkan music dari music box dengan sangat keras. Tentunya hal ini mengganggu rekan pendaki yang beristirahat, terutama rekan pendaki yang saat itu sedang berdoa. Apakah tindakan yang dilakukan rombongan pendaki tadi salah ? saya tidak akan mesjustice tindakan mereka adalah tindakan yang salah. Namun tindakan yang mereka lakukan adalah tindakan yang kurang tepat. Memang setiap orang mempunyai kebebasan masing-masing untuk keperluan menghibur dirinya, anda bebas bercanda, memperdengarkan music ketika mendaki gunung, namun sebaiknya lihatlah  kondisi sekitar anda terlebih dahulu. Jangan sampai anda dinilai negatif oleh orang lain karena perbuatan anda sendiri. Saya rasa pembaca disini jauh lebih dewasa untuk tidak melakukan tindakan terutama yang mengakibatkan kegaduhan serta mengganggu ketenangan.

Tidak mengotori gunung, membawa sampah turun adalah tindakan yang patut dicontoh

“ Take nothing but picture, leave nothing but footprint, kill nothing but time”  itu adalah etika hidup universal seorang pendaki, bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti : Dilarang mengambil apapun kecuali foto, dilarang meninggalkan apapun kecuali jejak, dan dilarang membunuh apapun kecuali waktu. Aturan tak tertulis ini tidak hanya sekedar diucapkan dan hanya dimengerti begitu saja tanpa ada tindakan riel untuk melakukannya. Puncak-puncak gunung saat ini jauh berbeda dibanding puncak gunung sast saya melakukan pendakian pada awal tahun 2000. Sampah yang berserakan sering kita temui tidak hanya di puncak saja namun juga di sepanjang jalur pendakian. Kekhawatiran saya pribadi, kita hanya akan mewarisi gunung yang penuh sampah untuk generasi yang akan datang. Dengan minimnya kesadaran untuk membawa sampah turun dari kawasan gunung, tidaklah mustahil, anak cucu kita nantinya hanya akan melihat indahnya gunung serta panorama lainnya hanya pada sebuah foto. Gunung yang asri dengan rimbunnya vegetasi hanya akan menjadi isapan jempol belaka bilamana kita tidak berusaha menghentkan pencemaran lingkungan di sekitar gunung. 

Bersyukurlah kita, masih ada banyak orang yang sadar akan kelestarian lingkungan. Banyak juga organisasi pecinta alam yang mempunyai kegiatan rutin membersihkan gunung dari sampah. Dan sudah menjadi tanggung jawab kita bersama, untuk menjaga kelestarian alam di bumi pertiwi ini untuk generasi yang lebih baik.


Tidak berebut melintas jalur pendakian


Pernah mengalami hal ini? Beruntunglah bagi anda yang tidak pernah mengalaminya. Saling berebut ketika melintasi jalur pendakian akan sering kita jumpai ketika musim pendaki tiba. Musim-musim pendakian biasanya terjadi pada hari libur panjang serta  hari kemerdekaan Nasional. Beberapa pendaki ingin memperingati hari kemerdekaan negara dengan mengibarkan bendera merah putih di atas ketinggian di kawasan puncak gunung. Secara simbolis sikap nasionalisme mereka patut kita contoh, namun sebaiknya hal itu disertai dengan sikap tidak berebut ketika melintasi jalur menuju ke puncak gunung. Adakalanya kita harus berpapasan dengan rombongan pendaki yang turun ketika hendak menuju puncak. Ada baiknya dengan kesadaran kita, kita bergantian mempersilahkan mereka untuk turun, karena bilamana menunggu kita naik tentu akan lebih memakan waktu yang lebih lama. Saling menyapalah diantara pendaki, karena kita berada di tempat yang sama, menghirup udara yang sama, dibawah langit yang sama dan tentunya mempunyai setidaknya tujuan yang sama.


Tidak mengotori sumber air yang tersedia

Seperti yang dijelaskan di awal, seharusnya tidak mengotori sumber air yang tersedia, di beberapa gunung di Indonesia mempunyai sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan minum dan memasak. Sabagai contoh sumber air di gununng Andong, Gunung Merbabu via Suwanting dan gunung Gede pangrango. Sumber air sangat penting bagi kita, terlebih jika jalur yang kita lewati adalah track yang curam dan panjang, karena dengan begitu konsumsi air kita akan lebih banyak dibanding dengan  kondisi track yang landai. Menjadi kewajiban kita bersama untuk menjaga sumber mata air yang ada, terlebih dari tangan-tangan jahil dan tidak bertanggung jawab, untuk kepentingan kita bersama.


Tidak melakukan tindakan vandalisme


Aksi  vandalisme, seperti mencoret-coret batu atau papan petunjuk di jalur pendakian, hampir dapat kita temui di semua tempat pendakian. Beberapa coretan tersebut bertuliskan nama seseorang, nama kelompok bahkan nama organisasi pecinta alam yang diikutinya. Ironis memang, seseorang yang seharusnya menjadi pioneer dan teladan, malah melakukan hal yang sangat kurang pantas. Beberapa organisasi sadar lingkungan seringkali mengadakan kegiatan pembersihan kawasan gunung dari sampah maupun dari tulisan hasil coret-coret pendaki yang tidak bertanggng jawab, namun akankah akan terus menerus  seperti itu? Upaya preventif dengan cara memupuk kesadaran akan kelestarian alam akan jauh lebih efektif. Dan bilamana kita melihat seseorang baik dari kelompok kita, maupun dari pendaki lainnya yang berasal dari kelompok lain melakukan hal yang demikian, sebaiknya kita tanpa sungkan menegurnya. Karena kelestarian alam ini adalah tanggung jawab moral kita bersama.

Jadilah pendaki yang taat aturan dengan melakukan registrasi dan tidak melanggar batas pendakian


Hal ini seringkali terjadi, beberapa pendaki masih saja ada yang melakukan pendakian tanpa melakukan registrasi terlebih dahulu. Tujuan melakukan registrasi tidak hanya sekedar mencatat anggota saja, melainkan sebagai pemantauan pihak pengelola bilamana terjadis sesuatu yang tidak diharapkan, sebagai contoh pendaki yang hilang, terjadi kebakaran hutan yang mengharuskan pihak pengelola gunung untuk melakukan sterilisasi daerah gunung terhadap para pendaki. Selain itu akan memudahkan tim SAR dalam melakukan pencarian apabila terjadi kasus seperti hilangnya pendaki dan kasus-kasus lainnya yang harus melibatkan banyak pihak. 

Kita masih ingat kasus seorang pendaki yang terpeleset dan jatuh di kawah gunung Merapi. Kasus tersebut tidak akan terjadi bilamana kita mengikuti aturan yang berlaku. Misalkan di kawasan gunung merapi, batas pendakian hanyalah sampai di pasar bubrah, sedangkan jika kita mendaki ke Semeru, batas pendakian hanyalah sampai di Kalimati. Memang rata-rata tujuan utama seorang pendaki adalah sampai puncak gunung, namun sebaiknya kita menahan ego kita untuk tidak mendaki sampai di puncak demi keselamatan kita dan demi orang-orang yang penting dalam hidup kita.

Saling membantu antar pendaki bersikap komunikatif

Diantara pendaki, tidak boleh ada yang egois. Karena kita di gunung mempunyai hobi dan tujuan yang sama, maka penting bagi kita untuk saling membantu jika mengalami kesusahan. Rata-rata sikap komunikatif antara sesama pendaki sudah terjalin dengan baik, sebagai contoh bertegur sapa saat berpapasan, namun seringkali kita jumpai sikap yang tidak jujur bilamana kita menanyakan jarak dan waktu tempuh suatu tempat yang menjadi tujuan kita kepada pendaki yang turun gunung. Misalkan biasanya pendaki yang turun gunung seringkali memberikan informasi yang tidak akurat mengenai waktu dan jarak tempuh yang akan kita lalui. Hal tersebut mempunyai  tujuan agar kita tidak down ketika menghadapi track yang ada, namun informasi yang jujur akan lebih baik dibandingkan dengan sebuah kebohongan apapun itu alasannya. 


Tidak merusak, merubah papan petunjuk arah dan sarana lainnya

Sungguh tidak terpuji bilamana kita melakukan tindakan ini. Petunjuk arah yang tersedia memudahkan kita untuk mencari jalur yang akan kita lewati. Dengan merusak ataupun merubah arah papan tersebut, akan mencelakakan diri orang lain karena beresiko menuju arah yang salah dan keluar dari jalur pendakian.


Mencari tempat yang tepat untuk keperluan buang air

Tempat baik itu buang air besar maupun untuk keperluan buang air kecil sebaiknya berada di tempat yang jauh dari jalur pendakian, jauh dari mata air serta jauh dari area untuk mendirikan tenda. Agar tidak megganggu pendaki lainnya, kita bisa menggunakan teknik gali lubang serta tutup lubang sisa pembuangan kita. Pastikan tempat yang kita gunakan aman dari binatang berbahaya dan tidak berada pada jalur aliran air. Gunakan tissue basah ataupun air untuk membersihkan diri kita. Dengan tindakan yang tepat maka kenyamanan pendakian dapat kita ciptakan bersama.   


Tidak merusak habitat satwa dan tidak membawa pulang baik itu satwa atau flora yang ada


Ketika mendaki gunung, kita hanyalah sebagai pendatang. Sebagai pendatang kita tidak mempunyai hak apa-apa selain melihat dan menikmati alam disekitarnya. Dan sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga habitat penghuni asli kawasan gunung tersebut, yakni satwa-satwa liar. Di beberapa gunung, disediakan wadah untuk menampung air hujan yang bertujuan untuk tempat minum satwa. Oleh karenanya, kita tidak boleh mencemari persediaan air tersebut. Kita juga tidak boleh membawa pulang baik itu satwa maupun tumbuhan yang ada. Kawasan gunung sebagian besar masuk dalam kawasan konservasi dan hutan lindung, sehingga kita dikenakan hukuman bilamana kita kedapatan membawa hewan dari kawasan tersebut.


Menjunjung tinggi adat istiadat setempat

Dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung. Peribahasa tersebut akan terus berlaku, karena setiap tempat yang kita kunjungi mempunyai  istiadat masing-masing. Oleh karenanya kita harus mengikuti adat serta norma yang berlaku di dalam masyarakat tersebut. Bila kita mengikuti adat yang ada serta norma yang berlaku, maka masyarakat sekitar akan menghargai kita dan bilamana kita bersikap sebaliknya maka masyarakat sekitarpun akan  acuh terhadap kita. Sebagai contoh ketika kita meminta informasi tentang lokasi basecamp, sebaiknya kita berbicara dengan sopan, bilamana kita berkendara maka sebaiknya kita turun dahulu dari kendaraan, karena ada juga masyarakat yang sensitif terhadap hal tersebut. Alih-alih mendapatkan informasi yang benar tentang letak basecamp, kita malah ditunjukkan ke arah yang salah, jauh dari lokasi basecamp.

Itulah tadi beberapa etika mendaki gunung yang berhasil saya rangkum, tentu masih ada banyak lagi etika mendaki yang belum dapat saya sebutkan, oleh karenanya sahabat ruang pendaki saya persilahkan untuk menambahkannya di kolom komentar. Terimakasih.



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "11 etika mendaki gunung yang harus ditaati oleh pendaki"

Post a Comment